Anomali Perekonomian Komoditas Jagung

by February 18, 2019
Opini 0   343 views 0
Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

ANOMALI I: SURPLUS PRODUKSI TAPI HARGA NAIK
Tema forum diskusi ini, Untung Rugi “Surplus” Jagung, sangat menarik untuk dicerna lebih dalam. Nara sumber diminta menelaah apa untung dan ruginya dalam hal terjadi produksi jagung yang berlebihan alias surplus. Tanpa menelaah lebih dalam, berdasarkan “hukum ekonomi”, surplus produksi jagung, yang berarti surplus supply, pasti membuat harga komoditas ini turun. Kalau penurunan harga komoditas ini membuat permintaan jagung meningkat lebih besar dari penurunan harga, dengan kata lain elastis harga tinggi, maka secara keseluruhan kondisi tersebut masih menguntungkan bagi produsen, dalam hal ini petani jagung. Tetapi, kalau penurunan harga tidak diikuti dengan peningkatan permintaan yang memadai (inelastic), maka petani jagung akan rugi.

Tetapi, fakta di lapangan ternyata berbeda dengan “hukum ekonomi” di atas. Menurut berbagai sumber, termasuk penyelenggara diskusi hari ini, produksi jagung Indonesia tahun ini, 2018, mengalami surplus (besar), dan surplus ini diikuti dengan kenaikan harga jagung yang cukup signifikan. Kok bisa? Mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, harga jagung domestik ditentukan oleh harga domestik saja, artinya tidak dipengaruhi oleh harga luar negeri (impor): pelarangan impor. Kedua, diterapkan harga minimum jagung, seperti Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun demikian, surplus produksi jagung akan menekan harga jagung ke harga minimum tersebut: artinya, harga jagung tidak bisa lebih tinggi dari harga minimum tersebut, selama terjadi kelebihan supply, alias surplus, jagung.

Dengan kata lain, harga jagung hanya bisa naik terus kalau permintaan jagung lebih besar dari supply jagung, atau terjadi shortage. Disini timbul pertanyaan bagaimana tingkat akurasi data produksi.

  1. Apakah memang produksi jagung meningkat?
  2. Apakah memang terjadi surplus jagung: total supply lebih besar dari total demand?

Berdasarkan data yang dipublikasi, total produksi jagung nasional 2017 mencapai lebih dari 28 juta ton, sedangkan kebutuhan jagung nasional per tahun hanya sekitar 15,5 juta ton saja, sehingga  terjadi surplus yang sangat besar, meskipun ada ekspor karena jumlahnya tidak terlalu besar. Kalau data ini benar maka seharusnya terjadi penurunan harga jagung yang sangat signifikan. Kalau ini tidak terjadi, bahkan sebaliknya terjadi kenaikan harga, berarti ada permasalahan yang serius yang tidak teridentifikasi? Apalagi produksi jagung 2018 dikabarkan juga meningkat, jadi seharusnya harga jagung anjlok ke tingkat harga minimum yang ditetapkan pemerintah (HPP).

Terkait dengan ekspor, apakah harga jagung Indonesia masih bisa bersaing dengan harga jagung negara-negara eksportir besar seperti AS, Brazil, Argentina?

ANOMALI II: SUBSTITUSI BAHAN BAKU, HARGA JAGUNG TIDAK TURUN
Industri pakan ternak merasakan anomali pasar jagung domestic seperti dijelaskan di atas. Dipicu harga yang tinggi (karena langka di pasar?), para produsen pakan ternak mulai mencari bahan baku pengganti seperti gandum impor (karena impor jagung tidak diperkenankan). Penggunaan substitusi bahan baku jagung ke gandum akan mengurangi permintaan jagung untuk pakan ternak, dan akan membuat harga jagung turun.

Impor gandum untuk pakan ternak meningkat terus sejak 2016 sebagai substitusi jagung yang sudah mahal (tetapi sekaligus dirasakan langka). Namun demikian, harga jagung masih bertahan tinggi sehingga menambah anomali pasar jagung digambarkan di atas.

DILEMA TATAKELOLA INDUSTRI KOMODITAS JAGUNG
Kenaikan harga jagung bagaikan buah simala kama. Pasalnya, jagung merupakan komoditas penting sebagai bahan baku utama pakan ternak. Komponen jagung bisa memberi kontribusi sekitar 30 persen – 35 persen dari harga daging ayam. Oleh karena itu, kenaikan harga komoditas jagung berpengaruh besar terhadap harga telur dan daging ayam, yang menjadi sumber protein sangat penting bagi kebanyakan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat kelompok bawah yang jumlahnya sangat besar sekali, mungkin mencapai 60 persen dari total penduduk Indonesia yang mengandalkan sumber protein dari telur dan ayam. Oleh karena itu, stabilitas harga telur dan daging ayam sangat penting bagi ketersediaan protein bagi masyarakat Indonesia khususnya kelompok bawah.

Kenaikan harga jagung akan berimbas ke kenaikan harga pakan, dan harga telur dan ayam. Di satu sisi, kenaikan harga jagung baik buat petani jagung. Tetapi di lain sisi, kenaikan harga jagung membebankan konsumen telur dan ayam dari masyarakat kelompok bawah. Di sini komoditas jagung menjadi dilematik: kelompok mana yang mau lebih diprioritaskan.

Padahal, harga jagung internasional jauh lebih murah dari harga domestik. Harga internasional rata-rata September 2018 seebsar USD154,80 per metrik ton, atau sekitar Rp2.322 per kg (dengan menggunakan kurs Rp15.000 per dolar AS). Dengan harga internasional sebesar ini, harga pakan ternak seharusnya akan jauh lebih murah kalau menggunakan jagung impor, sehingga harga telur dan daging ayam juga menjadi lebih murah. Lebih terjangkau oleh masyarakat kelompok bawah. Tetapi, secara bersamaan, harga jagung lokal juga akan anjlok karena permintaan jagung lokal berkurang drastis: pendapatan petani akan anjlok, kesejahteraan petani menjadi taruhan.

Kedua pilihan di atas serba sulit dan serba salah: dilematik.

PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDALAMAN PENGGUNAAN JAGUNG
Penggunaan jagung di Indonesia belum terlalu banyak variasinya. Kebutuhan jagung di Indonesia paling besar untuk pakan ternak. Selain itu, jagung dibutuhkan untuk konsumsi, bahan pangan, bahan baku industri makanan dan minuman. Peningkatan kebutuhan yang paling besar adalah untuk bahan pakan. Peningkatan produksi jagung yang berakibat pada surplus jagung akan memberi dampak negatif terhadap harga jagung. Oleh karena itu, untuk menghindari efek negative ini, surplus jagung harus diiringi dengan peningkatan permintaan, baik ekspor maupun penyerapan industri dalam negeri. Tetapi, berdasarkan industri yang saat ini sebagai konsumen jagung, peningkatan kebutuhan jagung tidak dapat melonjak tajam. Oleh karena itu, diperlukan alternatif penggunaan jagung agar lebih bervariasi untuk meningkatkan permintaan jagung, misalnya jagung dapat diproduksi menjadi gula, sirop, minyak goreng, utnuk kebutuhan farmasi, kosmetik, ethanol, dan banyak lainnya lagi. Dengan peningkatan penggunaan yang lebih bervariasi, konsumen jagung di Indonesia diharapkan dapat lebih bervariasi dan tidak terlalu tergantung dari sektor pakan ternak.

DIFERENSIASI PASAR/HARGA
Permasalahan dilematis di atas karena jagung sebagai komoditas makanan dan komoditas bahan baku tercampur dalam satu pasar. Salah satu solusi adalah membuat pasar jagung untuk pakan ternak terpisah dengan pasar jagung untuk industri makanan dan minuman. Artinya, jagung mempunyai dua pasar, semacam memberlakukan price discrimination, price differentiation, preferential pricing, etc.

Untuk jagung pakan ternak, pemerintah bisa menentukan harga agar win-win bagi kedua belah pihak: petani jagung dan konsumen telur dan ayam, melalui skema subsidi: price floor, jaminan harga, etc. Subsidi diperlukan untuk petani jagung domestik karena harga jagung lokal tidak bisa bersaing dengan harga jagung impor (karena disubsidi).

Related Images: