Duh, Surplus Jagung Dianggap Hoaks

RILIS.ID, Jakarta Pernyataan gagah Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menyebutkan Indonesia surplus jagung diragukan sejumlah kalangan.

Bahkan, pernyataan dan data dari Kementerian Pertanian itu dituding sebagai hoaks atau berita bohong.

Beberapa sudah dapat menyimpulkan, ‘surplus’ jagung itu bukan menguntungkan tetapi merugikan masyarakat, termasuk peternak dan konsumen.

Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Untung-Rugi ‘Surplus’ Jagung di Jakarta, Rabu (10/10/2018) dengan pembicara Direktur Eksekutif Institute for Development of Economies and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan, Pengamat Ekonomi dan Pasar Modal Ferry Latuhinhin, Pengamat Pertanian Khudori, Peneliti Pusat Kajian Pangan Strategis, Tony J Kriatianto dan Agripreneur Jagung, Dean Novel.

“Ini hoaks gede,” kata Tony lugas.

Saya prediksi akibat ini harga telor pada Desember akan sampai Rp40 ribu per kilogram, sambungnya.

Sedangkan pengamat ekonomi modal, Ferry menyebut telah terjadi miss information dalam data yang dikeluarkan pemerintah termasuk soal jagung.

“Telah terjadi miss information sehingga masyarakat dan investor dibuat bingung,” ujar Ferry.

Anthony memberikan pemahaman yang sangat mendasar dan sederhana tentang alasannya meragukan data surplus.

“Sederhana saja, kalau surplus harga jagung pasti murah karena pasokan banyak. Tapi buktinya harga jagung mahal,” ungkap Anthony.

Sedangkan pengusaha pertanian, Dean Novel mengkritisi klaim Mentan Amran yang menyebutkan produksi jagung yang mencapai 30 juta ton.

“Jumlah sebesar itu bentuk tongkol atau pipilan. Kalau pipilan kadar airnya berapa?” tanyanya.

Novel juga meragukan surplus yang diklaim pemerintah.

Selama ini, Novel menyebut kualitas bibit yang dipasok ke petani pun kualitasnya rendah dan tidak memperhitungkan kondisi lahan atau kearifan lokal petani.

“Kalau saya menyediakan benih kepada petani untuk musim hujan atau musim kemarau termasuk pancaroba benihnya berbeda sehingga keberlangsungan produksi terjaga,” kata lulusan bisnis Universitas Pancasila ini.

Tetapi Novel juga menyayangkan isu yang berkembang, ketika harga jagung murah dan merugikan petani para elite seolah diam.

Sebaliknya, ketika kepentingan pengusaha atau kapital (peternak) terancam, negeri seolah heboh.

“Petani juga kan harus menikmati hasilnya. Wajar bila menikmati keuntungan besar,” belanya.

Sumber

Leave a Comment