Angka Produksi Jagung Bisa Dikoreksi

by November 9, 2018
Media Online 0   78 views 0

TROBOS.COM: Jakarta. Produksi jagung yang selalu digaungkan surplus, bisa saja dikoreksi oleh Badan Pusat Statistik sebagaimana dilakukan pada produksi beras.

Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika menerangkan kalau produksi jagung surplus, dengan produksi yang diumumkan pemerintah saat ini (Kementan memperkirakan produksi jagung tahun 2018 sebesar 30 juta ton –red) seharusnya terdeteksi luasan panen jagung setidaknya 5,3 juta ha.

Selanjutnya angka produksi itu diverifikasi dengan jumlah benih yang ditanam, dengan asumsi 1 ha lahan memerlukan benih jagung 20 kg, maka diperlukan benih 106.000 ton. Namun realitanya produksi benih nasional tidak pernah lebih dari 60.000 ton.

“Seperti halnya data beras dikoreksi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), karena over perhitungan sebesar 43,43%. Jagung pun demikian berpotensi dikoreksi, karena musim panen jagung dan padi tidak jauh berbeda,” tegas Yeka pada konferensi pers “Darurat Jagung” yang digelar oleh Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) di Jakarta (8/11).

Ambigu

Yeka mengatakan, berdasarkan Rakortas (rapat koordinasi terbatas) Kemenko Perekonomian pada 2 November 2018 lalu. Pemerintah akan mengimpor jagung sebesar 100 ribu ton. Hal itu tidak didasari pengakuan resmi Kementerian Pertanian bahwa ketersediaan jagung langka. Kebijakan impor jagung terbatas ini dinisbatkan kepada upaya membantu peternak rakyat yang menderita akibat harga pakan mahal karena tekanan nilai dolar terhadap rupiah.

Yeka menandaskan, kebijakan impor jagung tidak bisa disamakan sebagai pemadam kebakaran ketika peternak utamanya layer (ayam petelur) membutuhkan jagung untuk pakan ternaknya.

Sebab pemerintah mengklaim surplus jagung sebesar 12,94 juta ton. Menurutnya, kalau memang jagung surplus seharusnya disimpan sebagai cadangan produksi nasional sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan ketika peternak membutuhkan jagung.

Empat Titik Kritis Impor Jagung

Yeka berpandangan, impor jagung secara mendadak justru menjadi polemik jika tidak mempertimbangkan harga jagung dipasar internasional. Berdasarkan pengalamannya, harga jagung yang diterima peternak melebihi harga acuan Permendag No 59/2018 yaitu sebesar Rp 4.000 per Kg.

Pada 2016, Perum Bulog merugi akibat impor impor jagung pada akhir 2016 gagal diserap peternak. Dia menyarankan, empat hal yang harus diperhatikan oleh Bulog.

Pertama memperhatikan jagung impor yang berkualitas. Kedua, memastikan penyimpanan jagung impor di gudang dengan baik, supaya kualitas jagung tidak menurun. Ketiga, memastikan distribusi jagung disentra peternakan rakyat. Keempat, jagung segara disalurkan sebelum panen raya yang diperkirakan terjadi pada Februari – Maret 2019.

“Mekanisme pembayaran harus diatur rapi sehingga tidak memberatkan rakyat. Jika mekanisme pembayarannya memberatkan peternak rakyat, bisa saja peternak rakyat tidak membeli jagung impor. Apalagi dalam waktu dekat panen raya,” tuturnya.

Sumber

Related Images: