Bersiap Langkah Menyokong Porang

by February 9, 2021
Media Online Opini 0   44 views 0
Petani menunjukkan umbi tanaman Porang (Amorphophallus Muelleri) di Desa Kedung Sari, Gebog, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2020). Tanaman umbi-umbian yang banyak tumbuh di hutan tersebut mengandung.

JAKARTA – Tanah Indonesia adalah tanah penuh berkah, begitu mudah ditanami apa saja.

Adagium pada penggalan lirik lagu Koes Plus yang menganalogikan tongkat kayu dan batu jadi tanaman, pas menggambarkan kesuburan tanah negeri ini pada masanya.

Banyak jenis tanaman pangan yang berhasil tumbuh subur di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Dari banyak tanaman, ada satu jenis tanaman yang perawatannya begitu mudah, dan permintaan ekspornya begitu tinggi. Porang namanya. Nama latinnya Amorphophallus Muelleri. Tanaman ini termasuk dalam keluarga umbi-umbian dan mengandung banyak glucomannan-serat alami berbentuk tepung–bernilai ekonomi tinggi.

Di Indonesia sendiri, mungkin tak banyak orang yang mengetahui porang berikut produk turunannya. Malahan, ada daerah yang menganggap porang sebagai tanaman pengganggu, karena ia dapat tumbuh dengan sendirinya di kebun kopi milik petani. Namun di negara-negara lain, seperti Jepang contohnya, porang justru dibutuhkan sebagai bahan baku shirataki atau konyaku.

Barangkali, karena minimnya informasi mengenai potensi produk turunan dan pasar peminat porang, tak banyak petani yang serius menggeluti budidaya porang. Pada 2016 saja, volume ekspor porang hanya mencapai 0,29 juta ton. Volume ekspor baru naik secara signifikan mulai 2018, yakni mencapai 11,72 juta ton dan terus meningkat hingga 2020.

Kementan menyebutkan pengolahan produk terkait bisa dan biasa digunakan sebagai aditif makanan berupa emulsifier dan pengental. Bahkan, dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Sebagai informasi, porang merupakan tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%. Dengan naungan ini, porang pas ditumpangsari. Porang juga dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl.

Menanamnya pun mudah. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Prospek Besar

Soal prospeknya, Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian atau PSEKP Kementan Sudi Mardianto mengakui, porang sangat potensial untuk dikembangkan. Sebab kini permintaan dari luar negeri masih tinggi, dan harganya pun menarik.

“Pemerintah mendorong agar budidaya porang dapat berkembang sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan ekspor tapi juga kebutuhan domestik,” katanya kepada Validnews, Senin (8/2).

Menilik ini, pada 2021 Kementan melalui Ditjen Tanaman Pangan menargetkan luas tanam porang dapat mencapai 30.000 ha. Saat ini, pemerintah memberi dukungan masih dalam bentuk fasilitasi kegiatan perbenihan dan pengolahan hasil.

Sementara untuk pengembangan budidaya, pemerintah menyediakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat atau KUR yang dapat dimanfaatkan untuk permodalan petani. Bantuan sarana produksi berupa benih serta alat pengolahan hasil juga telah dan akan rutin diberikan.

“Hal ini dilakukan di daerah yang menjadi proyek percontohan dan kawasan pengembangan porang,” ujarnya.

Pada saat yang sama, pemerintah juga telah mengidentifikasi hambatan produksi tanaman porang. Ketersediaan lahan adalah salah satunya. Selama ini porang sebagian besar dibudidayakan di area hutan lindung dan hutan produksi.

“Untuk itu, perlu ada komunikasi dan sinergitas program antara Kementan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelasnya.

Karena minim pengembangan, kualitas panen produk porang masih rendah. Banyak petani terlalu cepat memanennya. Kondisi ini juga terjadi lantaran hasil panen tidak mencapai persyaratan minimum negara pemesan, di mana rata-rata ukuran diameter chips yang dibutuhkan adalah di atas 8 cm.

“Kemudian perlu ada perbaikan teknis budidaya dan panduan Good Agricultural Practices (GAP) porang agar dapat menembus pasar yang lebih luas. Lainnya, perlu segera diciptakan varietas unggul dan sertifikasi benih porang,” ujarnya.

Adapun runutan ekspor porang dimulai dari petani yang sebagian masih menjual dalam bentuk umbi basah dan sebagian lagi dalam bentuk chips, yang kemudian dijual kepada pengumpul tingkat desa-kecamatan. Proses berlanjut dengan penjualan ke pedagang besar. Terakhir, porang dijual ke pabrik pengolah yang sekaligus bertindak sebagai eksportir. Di pabrik, umbi basah diolah menjadi chips dan sebagian dari chips tersebut diolah menjadi tepung.

China dan Jepang berorientasi mengimpor dalam bentuk chips dan tepung porang. Sementara, Korea Selatan, Eropa dan Amerika lebih banyak mengimpor dalam bentuk tepung porang.

Ketua Komunitas Petani Porang Bali I Wayan Sunhantika mengatakan, setelah resmi dibentuk 15 Maret 2020, kini ada 157 anggota aktif. Kini jumlahnya terus bertambah setiap harinya. Anggotanya berasal dari seluruh kabupaten dan kotamadya di Bali.

Tak ada cara khas untuk merawat porang. Pemeliharaan hanya cukup diberi pupuk agar tanaman mendapat nutrisi serta rutin membersihkan rerumputan pengganggu atau gulma agar tidak merebut sari makanannya.

Wayan mengamini, tidak ada catatan baku bagi anggota komunitas untuk memulai budidaya porang. Penanaman bisa dimulai dari pekarangan kecil, jumlah dan potensinya bisa lebih bagus jika bisa lebih besar dari itu. Hal yang terpenting adalah lahan tersebut tidak menggunakan lahan nonproduktif.

“Contohnya, porang itu bisa hidup di bawah pohon kelapa atau pohon mangga. Tanaman induknya enggak usah dibuang, dia bisa sebagai pelindung kalau di hutan,” ujarnya, kepada Validnews, Sabtu (6/2).

Dia juga menguraikan, hitungan kasar panennya, satu hektare dapat menghasilkan kurang lebih sekitar 40 ton porang. Sementara, waktu yang dibutuhkan untuk budidaya porang, penanam hanya perlu memperhatikan kebiasaan porang yang asli hidup di hutan.

“Kita menanam musim hujan, kemudian selesai musim hujan dia akan mati sendiri, jika dibiarkan ya sudah umbinya di dalam seperti suweg. Begitu musim kemarau, batang dan daunnya mati, karena ini batang semu. Nanti muncul lagi sendiri di musim hujan sekitar September–Oktober,” urainya.

Tantangan Penanaman

Meski pengembangan komoditas porang cukup prospektif dalam jangka panjang, Wayan Sunhantika tidak menampik bahwa petani masih trauma terhadap kebiasaan pola penanaman yang diinstruksikan pemerintah. Sebelumnya, mereka diminta menanam jahe merah, program pajale, sengon dan yang lainnya. Mirisnya, setelah ditanam malah kemudian ditinggalkan.

Komunitas ini pun terus meyakinkan kalangan petani lain bahwa penanaman porang berbeda dengan jenis tanaman lainnya. Mereka meyakinkan, ekspor porang diproyeksikan masih berjalan sekitar 15-20 tahun lagi, prospek komoditas terkait masih bagus. Industri masih membutuhkannya.

Ketum Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Umbi Indonesia (Pusbarindo) Valentino juga menilai peluang pengembangan porang sangat bagus dari segi bisnis. Apalagi dengan karakter tanaman yang begitu sederhana untuk dibudidaya pada ketinggian lahan bervariasi antara 0-700 mdpl. Porang juga tidak mudah terkena penyakit dan tidak rentan dengan cuaca ekstrim.

“Artinya enggak perlu di pegunungan, kalau cari lahan pegunungan kan terbatas, porang (ditanam) dataran rendah bisa,” serunya kala diwawancarai Validnews, Minggu (7/2).

Valentino justru mengamati, faktor yang menghambat minat para petani untuk membudidayakan porang adalah jangka waktu penanaman hingga panen.

Budidaya porang memang memerlukan waktu yang cukup panjang, yakni sekitar 2,5–3 tahun sebelum benar-benar bisa dipanen. Jika dipanen sebelum tiga tahun, umbinya masih kecil. Berbeda dengan budidaya tanaman hortikultura dan pangan lain yang hanya membutuhkan waktu 3–4 bulan untuk bisa dipanen.

Sementara, rata-rata petani hanya memiliki lahan sekitar 0,2–0,25 ha, paling besar pun hanya setengah hektare. Idealnya, tanaman porang minimal ditanami di areal tanam sekitar 20–30 ha alias berbentuk hamparan. Lebih bagus lagi jika bisa lebih besar dari itu.

Karenanya, Valentino mengakui ada tantangan tersendiri untuk menanam dalam hamparan, cukup sulit untuk menemu-memberdayakan petani atau UMKM dalam satu hamparan. “

Untuk menyiasati masa panen yang panjang, sebenarnya petani porang bisa memanen katak porang pada masa 1–1,5 tahun pertama. Katak porang berbentuk seperti bunga di pangkal daun yang bisa dijual untuk bibit atau benih budidaya. “Nah, cuma jarang petani mengetahui potensi ini,” bebernya.

Oleh karena itu, Valentino berharap segera ada kejelasan peraturan pemerintah atau PP terkait pengembangan pertanian dalam UU Ciptaker. Jadi, UMKM bisa segera bekerja sama dengan pemilik lahan luas seperti PT Perhutani dan PT Perkebunan Indonesia.

Petakan Potensi Porang

Potensi ekspor, menurut Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi atau PATAKA Yeka Hendra Fatika memang cukup tinggi dengan China dan Jepang menjadi negara tujuan utamanya. Namun, kendala pandemi menyebabkan terjadinya gangguan distribusi. Pasar dalam negeri, selayaknya menurut Yeka, digarap juga.

“Artinya, saat pandemi hampir semua negara mengalami masalah distribusi, maka negara pembeli mencari alternatif. Begitu juga yang terjadi dengan Jepang kepada Indonesia,” paparnya kepada Validnews, Sabtu (6/2).

Selain di tingkat internasional, potensi agronomi porang juga ada secara domestik. Yeka mencatat, kebutuhan porang nasional saja bisa mencapai 1.000–2.000 ton per bulan. Faktanya, Indonesia juga mengimpor produk olahan porang dari China.

Berdasarkan itu, Indonesia perlu menyikapi kebutuhan permintaan domestik dan internasional yang sama tingginya secara sadar.

Yeka mengkhawatirkan, tanpa arah dan rencana budidaya yang jelas, bisa jadi penanaman porang yang sporadis malah menjatuhkan harga komoditas yang saat ini sedang mahal sehingga ditinggal oleh pembudidayanya.

Budidaya bunga aglonema, cacing, pohon jarak dan komoditas pertanian lainnya yang dulu sempat marak mendadak, menurut Yeka, harus jadi pembelajaran.

Yeka meminta pemerintah untuk dapat mengubah potential market yang ada menjadi captive market. Jangan sampai informasi kebutuhan porang hanya dikuasai trader. Jika demikian, keuntungan bisa dimaksimalkan seoptimal mungkin kala harga tinggi maupun harga rendah.

PATAKA sangat menyayangkan, jika potensi ekonomi porang selama ini hanya berhenti pada proses setengah jadi berbentuk chips sebelum diekspor. Padahal, realisasi investasi pabrik pengolahan porang menjadi tepung tidak terlampau canggih sehingga tidak membutuhkan dana besar.

Disparitas harga juga menjadi persoalan. Harga umbi porang hanya berkisar Rp15.000/kg, jauh lebih rendah daripada produk tepung porang kualitas 1–5 yang dapat dijual antara Rp100.000–400.000/kg.

Di sisi lain, pembuatan pabrik pengolahan porang menjadi tepung glucomanan tak ubahnya seperti pengolahan tepung kanji. Pemodal hanya butuh dana sekitar Rp50 miliar, untuk pengadaan tanah, pengadaan mesin, dan lainnya. Jika pabrik didirikan pemerintah, pengolahan tepung porang dengan kapasitas berkisar 150 ton per bulan, bukanlah hal susah.

“Nah, kita mau menghasilkan tepung glucomanannya atau mau menghasilkan chips porangnya? Siapa yang memikirkan itu ya tentunya harus government,” ujarnya.

Potensi pasar yang besar membutuhkan turun tangan pemerintah untuk bersikap serius menggarap peluang yang tersedia. Penetapan target, tanpa memetakan potensi ekonomi domestik dan internasional, dikhawatirkan tak punya efek panjang. (Khairul Kahfi, Rheza Alfian, Yoseph Krishna)

Sumber

Related Images: