Menjaga Kesuburan Tanah Pertanian dengan Pupuk Organik (belajar dari Abdullah, petani Desa Denai Lama)

Oleh: Nurhanif

Tahukah sobat, saat ini lebih dari 72 persen tanah pertanian di Indonesia sedang ‘sakit’! Tanah yang selama ini memberikan pangan untuk jutaan rakyat mulai kehilangan keseburannya. Menurut Guru Besar IPB University, Iswandi Anas Chaniago, kondisi ini disebabkan tingginya  penggunaan pupuk kimia, dan pupuk organik diabaikan.

Selama ini, petani seolah tidak punya pilihan selain menggunakan pupuk kimia. Padahal penggunaan pupuk kimia yang tinggi dapat menimbulkan beberapa masalah, diantaranya, tanah menjadi padat atau kurang gembur. Jika kondisi ini dibiarkan maka dapat menurunkan produktivitas pertanian. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah mendorong petani untuk memakai pupuk organik alami dari sumber yang mereka miliki, seperti pupuk kandang, kompos, tanaman air, dan lainnya.

Beberapa manfaat dari pemakaian pupuk organik adalah memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sebagai sumber hara, mengurangi pemadatan tanah, serta meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan cacing. Namun, sayangnya banyak petani yang lebih memilih pemakaian pupuk kimia karena dianggap lebih mudah digunakan, dan hasilnya terlihat langsung. Mereka menganggap memakai pupuk organik itu merepotkan, menghabiskan banyak waktu, dan hasilnya tak terlihat dengan cepat.

“Sawah ini bukan cuma milik saya. Ini merupakan warisan untuk anak cucu saya kelak. Sehingga kesuburannya harus dijaga.”

Abdullah, petani Desa Denai Lama, Kab. Deli Serdang, Sumut.

Padahal menurut Abdullah, petani dari Desa Denai Lama, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pemakaian pupuk organik tidak sulit. Berdasarkan pengalamannya, jika petani tidak memiliki waktu untuk menjadikan pupuk kandang menjadi kompos, maka kotoran ternak dapat disebarkan langsung ke sawah.

Bagi Abdullah pemakaian pupuk kimia justru meningkatkan biaya produksi. Karena volume pemakaian pupuk kimia semakin lama makin meningkat. “Dulu, pemakaian pupuk kimia hanya dua kilo per hektar, lama-lama bisa naik menjadi 20 kilo per hektar,” ujarnya. Kini, setelah dua tahun memakai pupuk organik, tanah sawahnya kembali gembur, dan subur. Hasil panen pun meningkat. “Sawah ini bukan cuma milik saya. Ini merupakan warisan untuk anak cucu saya kelak. Sehingga kesuburannya harus dijaga,”tambahnya.

Selain menggunakan kotoran ternak, Abdullah juga menanam enceng gondok di sawahnya. Tujuannya agar tanaman tersebut menyerap bahan-bahan kimia yang ada di lahan sawahnya. Namun, dia mengaku tidak terlalu paham apakah proses yang dilakukannya ini sudah benar.

Langkah Abdullah ini seharusnya tidak berjalan sendiri. Pemerintah perlu hadir dan mendukung dengan cara memperkuat penyuluhan tentang pupuk organik. Penyuluh pertanian memberikan pengetahuan dan informasi tentang manfaat pemakaian pupuk organik terutama untuk menjaga kesuburan tanah. Selanjutnya, pemerintah juga dapat memberikan insentif harga gabah bagi petani yang menerapkan praktik pertanian yang ramah tanah. Menutup sesi wawancara, Abdullah berpesan kepada para petani Indonesia untuk mulai menggunakan pupuk organik. Karena tanah yang dipakai untuk menanam saat ini, hasilnya tidak hanya untuk hari ini saja. Kesuburannya juga diperlukan oleh generasi mendatang. Tanah yang subur bukan sekedar lahan produksi, tapi warisan kehidupan. Abdullah sudah memulainya. Kini, giliran petani lainnya dan kebijakan publik untuk memastikan kesuburan tanah tetap lestari bagi generasi yang akan datang.

Leave a Comment