Pengamat: Ada Anomali Produksi Jagung
SinarTani.com – Kenaikan harga jagung yang dikeluhkan kalangan peternak menjadi sebuah anomali di saat produksi jagung mengalami kenaikan. Bahkan kalangan pengamat melihat sudah keluar dari hukum ekonomi.
Drs. Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) mengatakan, permasalah jagung adalah permasalah komoditas pertanian secara keseluruhan. Ketika panen, harga akan turun. Karena itu, perlu manajemen produksi dan stok.
“Untuk komoditas jagung telah terjadi anomali, ada surplus, tapi harga naik. Dalam hukum ekonomi tidak mungkin produksi naik, harga naik,” katanya dalam Diskusi Untung Rugi Jagung yang digelar Pataka di Jakarta, Rabu (10/10).
Misalnya, Anthony mencontohkan, tahun 2017 ada produksi jagung sebanyak 27,9 juta ton dengan kebutuhan nasional 15-16 juta ton. Artinya ada surplus, tapi mengapa harga jagung merambat naik. Apalagi tahun 2018 akan ada peningkatan produksi lagi.
“Kemana surplusnya. Kalau ada ekspor, dilihat harga jagung dalam negeri yang mencapai Rp 5.000/kg dan harga internasional 145 dollar AS/ton atau Rp 2.300/kg. Bagaimana bisa ekspor? Kalau ekspor 500 ribu ton, sisanya kemana?” ungkapnya.
Apalagi menurut Anthony, industri pakan yang biasa menggunakan jagung impor mensubsitusi ke gandum, bukan ke jagung lokal. Dengan demikian, seharusnya permintaan jagung di dalam negeri menurun. “Kalau permintaan turun, harganya juga harus turun. Kenapa sudah disubstitusi ke gandum, harga jagung lokal tetap naik. Jadi ditinjau dari ekonomi, tidak masuk,” tegasnya.
Karena itu Anthony mempertanyakan angka surplus jagung, baik dilihat dari perkembangan harga maupun permintaan untuk pakan ternak. Karena itu ia meminta pemerintah meninjau kembali angka produksi jagung. Sebab, jika data produksi salah, maka kebijakan yang pemerintah buat juga menjadi tidak benar.
Seperti diketahui tahun 2018, pemerintah menargetkan produksi jagung mencapai 22,95 juta ton pipilan kering. Bahkan diperkirakan target tersebut bisa terlampaui, karena pemerintah memperkirakan produksi jagung tahun ini bisa mencapai 33 juta ton. Bukan hanya swasembada jagung, pemerintah pun mulai melempar jagung ke pasar luar negeri alias ekspor.
Data BPS menyebutkan pertumbuhan produksi jagung dalam lima tahun terakhir (2013-2017) rata-rata mencapai 8,02% pertahun. Pertumbuhan terbesar terjadi tahun tahun 2016 sebesar 20,2.

