Pengusaha Jagung Butuh Data Produksi Terperinci
Jakarta (TROBOS.COM). Pengusaha jagung butuh akurasi data produksi yang angkanya mencapai 30 juta ton, karena belum terperinci spesifikasi kadar air dan kondisinya dalam bentuk jagung tongkol atau jagung kering pipilan.
“Jangan-jangan klaim produksi jagung 30 juta ton kadar air mencapai 25% atau 30%. Karena ini bukan kali pertama soal akurasi data, tapi setiap tahun kasusnya selalu berulang,” kata Dean Novel, pengusaha jagung terpadu hulu-hilir di acara diskusi bertajuk “Untung Rugi Surplus Jagung” yang digelar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) di Jakarta pada Rabu, (10/10).
Novel menyangkal klaim Kementerian Pertanian RI (Kementan) produksi jagung sebesar 30 juta ton. Menurutnya klaim surplus produksi jagung tidak dirinci dengan data statistik komprehensif tentang kondisi jagung.
Disampaikannya, pabrik pakan ternak menetapkan dua kelas kualitas jagung di tingkat petani. Pertama, jagung pipilan kadar air 14% dan 15% serta kadar air 16% dan 17%. Saat ini, harga setoran jagung pipilan ke pabrik pakan di Surabaya mencapai Rp5.100 per kg. Di Lombok, jagung tongkol berkadar air 30% harganya Rp2.500 – 2.550 30% di tingkat petani.
Novel menuturkan pada Desember 2016 – Januari 2017 harga jagung tembus di angka Rp6.000 – 7.000 per kg. Gonjang-ganjing harga jagung saat itu terjadi karena panen jagung berada di musim hujan sehingga jagung sulit tak bisa segera kering. “Akhir tahun ini harga jagung tertinggi akan tembus di angka Rp6.000 per kg, tetapi saya yakin harga naik tidak akan berlangsung lama,” prediksinya.
Anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan, Khudori mengatakan, produksi jagung pada lima tahun terakhir (2013 – 2017) mengalami peningkatan rata – rata 8,02% per tahun. Dia menyatakan terjadi peningkatan paling signifikan sebesar 20,22% pada 2016 dan 18,55% pada 2017.
Peningkatan itu, urai dia, dipengaruhi oleh bertambahnya luas panen sebesar 17,35% dan 20,95%. Terjadi pula kenaikan produktivitas meskipun angkanya hanya 1,23% per tahun.
“Dua tahun terakhir penanaman jagung diperluas ke wilayah lahan bukan sawah, seperti lahan Perhutani, lahan tadah hujan dan lahan perkebunan swasta di luar Jawa,” paparnya.
Menurutnya, pada 2017 untuk pertama kalinya produksi jagung di luar Jawa lebih tinggi dari Jawa, yaitu 16,42 juta ton untuk luar Jawa sedangkan Jawa hanya 11,53 juta ton. Meskipun demikian, Jawa masih dominan dalam pangsa produksi jagung nasional yang mencapai 48,4%. Di atas kertas target dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015 – 2019 tercapai 4,7% vs 8,02%.

