Makna Jagung Untuk Indonesia
Tanggapan Atas Tulisan Mengupas & Menakar Kembali Surplus Jagung
Oleh: Dr. Ir. Farid Bahar, M.Sc. (Tim Pakar Kementerian Pertanian, Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan 2001-2002)
- Ulasan dan pertanyaan dari laporan yang disampaikan oleh Pak Yeka bagus dan logis untuk referensi kita menyusun solusi yang tepat.
- Bagi petani, jagung adalah sumber pendapatan. Selesai panen ingin segera menerima harga jagungnya. Petani tidak dapat mengeringkan hasil panennya, ingin menjual produknya. Pemberdayaan petani adalah tugas bersama.
- Saya mengikuti dampak keberhasilan sesuatu komoditas pertanian disisi petani, kegiatan ekonomi di perdesaan bergulir positif, rakyat rukun dan sangat kecil tindakan kriminal. Tercipta banyak kesempatan kerja terkait dengan produk yang dihasilkannya, misalnya, tanam, panen, pemipilan, angkutan, perbengkelan, dlsb. Disinilah perlunya kita lihat kondisi mikro petani, agar mereka menjadi penghasil komoditas yang menghasilkan banyak kesempatan kerja. Apabila di perdesaan banyak kesempatan kerja, akan mengurangi pengaggguran.
- Jagung adalah tanaman semusim, menjadi sumber pendapatan petani yang diandalkan, terutama apabila tersedia cukup kelembaban tanah. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang luas terhadap berbagai cekaman lingkungan, termasuk kekurangan air.
- Dengan adanya ketetapan harga jagung dari Pemerintah, membuat petani lebih bergairah menanam jagung. Lahan yang tadinya tidak digarap, menjadi areal baru penanaman jagung. Secara bertahap terjadi penambahan luas pertanaman.
- Bagi petani yang punya akses terhadap irigasi, termasuk penggunaan air tanah (pompa air), akan menikmati harga jagung disaat produksi kurang. Semakin banyak petani menggunakan air tanah untuk mengairi tanaman jagungnya.
- Banyak petani yang bertaruh pada lahan yang yang marginal, berharap curah hujan memadai, bisa mengalami kerugian apabila terjadi kekeringan. Petani di wilayah marginal akan berani mananam jagung apabila mendapat kemudahan, misalnya ada bantuan peralatan, benih, pupuk, dsb.
- Produk jagung banyak konsumennya dalam bentuk; biji jagung pipilan kering, jagung manis, jagung muda untuk sayur, baby corn, tebon (batang dan daun jagung, umur 65-70 hari). Jagung pipilan kering bukan hanya oleh industri pakan ternak besar, peternak skala kecil, dan ada banyak industri rumah tangga yang menggunakannya.
- Kalau banyak peternak sapi, penggunaan tebon sangat diandalkan, dan bagi petani adalah sumber pendapatan yang jauh lebih baik dari jagung biji, yang harus dari menunggu 100 hari untuk memperoleh biji jagung.
- Ekspor jagung merupakan solusi yang tepat pada saat semua daerah panen jagung, karena kalau tidak diekspor, pengumpul jagung akan kewalahan menyimpannya, dan tidak dapat menyerap jagung petani. Hal ini terutama pada daerah-daerah di luar Jawa. Ekspor ke negara tetangga memungkinkan karena ada kesepakatan bilateral. Jagung Indonesia disukai kualitasnya, karena segar, lebih kuning, dan proteinnya lebih tinggi.
- Seandainya ada penyimpanan jagung skala besar yang aman di sentra produksi, kelebihan jagung sesaat ini dapat disimpan sebagai cadangan apabila pasokan kurang. Negara produsen jagung skala besar mengekspor jagungnya, apabila hasil panen yang akan datang memadai untuk kebutuhan industrinya.
- Sampai saat ini belum banyak pengusaha yang memiliki fasilitas penyimpanan jagung yang memadai, dan juga menyimpan dalam waktu lama ada modal yang tidak bergerak.
- Pemerintah (Kemendag) memiliki program sistem resi gudang, untuk membeli produk petani saat panen raya, mengeringkan dan menyimpan sementara, lalu menjual pada saat diperlukan. Program ini masih dalam proses, belum berperan optimal. Sudah banyak daerah yang memiliki fasilitas ini, sayang sekali manajemen Kemendag belum berhasil mengoptimalkannya. Program ini perlu ditingkatkan perannya menjadi penyimpan jagung skala besar.
- Pengguna jagung skala besar (pabrik pakan/GPMT) mulai memikirkan dan membangun fasilitas penyimpanan yang besar, karena Pemerintah mengendalikan impor jagung.
- Pengendalian impor jagung oleh Pemerintah adalah untuk membuat petani tidak terpuruk, terutama pada saat panen raya.
- Petani jagung sudah bertahun-tahun menyadari bahwa harga jagung dibentuk oleh rasio pasokan dan permintaan. Namun demikian, mereka menuntut adanya harga yang menjadi pengaman, dan ini sudah diberikan oleh Pemerintah. Harga dari Pemerintah sudah bagus.
- Para pengguna jagung skala besar (pabrik pakan) sudah diberikan wilayah pembelian jagung, agar produksi petani segera diserap, sehingga petani jagung dapat terus menanam jagung sepanjang lingkungan memungkinkan. Proses ini masih terus bergulir dengan penyempurnaan.
- Pemerintah memberikan dukungan alsintan (traktor, mesin tanam, combine harvester, dryer), benih dan pupuk. Belum tentu mampu menjangkau seluruh petani. Pemberian alat bantu ini memerlukan proses dan waktu untuk bisa menggunakan secara efisien.
- Daerah-daerah yang harga jagungnya bagus disisi petani, maka areal dan produktivitasnya meningkat secara bertahap. Petani berani melakukan investasi teknologi apabila ada kepastian harga dan penyerapan. Kita perlu investasi teknologi ditingkat petani, agar daya saing produknya tinggi.
- Saya lihat akan lebih bijaksana jika kita memikirkan lebih banyak rasio pasokan dan permintaan jagung, penyimpanan jagung yang aman dan murah, distribusi, angkutan, dan sebagainya, sebab ini yang akan berpengaruh terhadap proses produksi komoditas.
- Cara penghimpunan data BPS perlu disempurnakan, agar bisa memberi petunjuk yang tepat. Mekanisme pengumpulan data menurut pengamatan saya sangat lemah, kemungkinan masalah dana.
- Kalau kita sederhanakan perilaku komoditas pertanian, dapat dibagi dua, PRA PANEN dan PASCA PANEN. Kinerja Pra Panen ditentukan oleh perilaku Pasca Panen. Daya tawar mereka yang bergerak di Pra Panen sangat lemah dibandingkan dengan yang berada di Pasca Panen. Kementerian Pertanian lebih banyak kegiatannya di Pra Panen. Distribusi, penyimpanan, angkutan, adalah penentu harga komoditas, diluar kendali yang bergerak di Pra Panen.
- Kisruh peternak ayam petelur tentang harga jagung, karena saat panen raya peternak skala kecil ini tidak dapat membeli jagung dan menyimpannya, perlu modal banyak. Kebiasaan mereka, habis jual telur beli jagung dan komponen pakan lainnya. Jagung tidak selamanya tersedia, tergantung situasi penanaman. Kenaikan harga karena pasokan kurang adalah wajar, tetapi sesungguhnya ada jagung. Hal ini harus dilihat secara jernih.
Demikian tanggapan atas bahan yang disampaikan kepada saya, semoga kita bisa terus bersinergi membangun peternakan dan pertanian kita. Program Kemtan sudah bagus, namun ada yang tidak mengetahui dengan baik, ada yang ingin hasil yang cepat. Ini suatu proses yang memerlukan waktu. Daya serap teknologi oleh petani, peternak kita secara bertahap bertambah cepat.
Terima kasih.
8 Nop 2018


