Harga Telur Bisa Sentuh Rp30 Ribu Akhir Tahun

by November 9, 2018
Media Online 0   75 views 0

Validnews.co: JAKARTA – Tingginya harga jagung saat ini akan terus membuat harga telur ayam ras meningkat. Padahal, komoditas yang satu ini merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia. Diungkapkan oleh Forum Peternak Layer Nasional, harga telur bisa mencapai di atas Rp30 ribu menjelang akhir tahun 2018 ini.

Harga yang demikian tinggi dihasilkan dari membengkaknya ongkos produksi peternak layer karena mahalnya jagung pakan di pasaran. Padahal, jagung pakan merupakan bahan baku utama pakan ternak yang berkontribusi 50% terhadap biaya produksi.

Presidium Forum Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi mengatakan, saat ini harga jagung memang tengah melambung tinggi. Bahkan beberapa peternak layer di daerah terpaksa mesti membeli jagung dengan harga mencapai Rp5.800 per kilogram. Angka tersebut telah melonjak sekitar 38,10% dibandingkan harganya di kisaran bulan Juli yang masih di tataran Rp4.200 per kilogram.

“Ini sama seperti tahun 2015. Harga jagung di atas Rp6 ribu saat itu. Desember juga bisa kayak begitu kalau enggak ada impor,” tuturnya dalam diskusi dengan media di Jakarta, Kamis (8/11).

Tal ayal, kenaikan produk telur ras dari peternak layer pun tidak bisa ditahan. Jika kondisi harga jagung tak kunjung bersahabat, hingga Desember harga telur bisa mencapai di atas Rp30 ribu di tingkat konsumen.

“Sampai di Desember, maksimal harga bisa Rp24 ribu di tingkat peternak. Sampai di tingkat konsumen, bisa naik Rp6 ribulah. Sekitar Rp30 ribu,” tukas pria ini.

Untuk diketahui, saat ini harga telur ayam ras di tingkat peternak layer masih berada di kisaran Rp17—18 ribu per kilogram. Namun, harganya jauh lebih mahal di tingkat konsumen.

Mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga telur ayam secara nasional sudah mencapai Rp22,9 ribu per kilogram pada 8 November 2018. Artinya ada kenaikan sekitar Rp4—5 ribu per kilogram dari harga di tingkat peternak dengan yang harus dibayar konsumen.

“Masalahnya, bisa tidak masyarakat menerima harga segitu?” cetusnya pesimistis.

Kebutuhan telur nusantara memang tidak boleh dipandang remeh. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus kemarin konsumsi telur nasional telah mencapai 2,11 ribu ton per minggunya untuk 260 juta penduduk. Dalam setahun, kebutuhan telur nasional berarti mencapai 109,72 ribu ton.

Surplus Tak Berlogika

Mahalnya harga jagung merupakan imbas dari tiadanya jagung di pasaran. Padahal Musbar memaparkan, kebutuhan jagung pakan nasional tiap tahunnya bisa mencapai 11 juta ton.

“Berdasarkan hitung-hitungan dari total populasi, kita peternak layer untuk saat ini butuh sekitar 180 ribu ton per bulan. Kalau digabung dengan kebutuhannya feedmill 700—800 ribu ton per bulan,” ujarnya merincikan.

Menjadi menarik karena di tengah tingginya harga jagung, Kementerian Pertanian bersisikukuh menyatakan adanya surplus komoditas yang satu ini.

Untuk tahun 2017 saja, Kementerian Pertanian mengklaim, produksi jagung sebesar 27,95 juta ton. Volume ini meningkat drastis hingga 18,53% dibandingkan tahun 2016. Pasalnya pada 2016, produksi jagung nasional disebutkan berada di angka 23,58 juta ton. Artinya kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan peternak layer dan produsen pakan, masih ada surplus sebesar 12,58 juta ton.

Hal inilah yang dipandang Direktur Eksekutif Pataka, Yeka Hendra Fatika, menjadi tidak berlogika. Pasalnya dengan surplus sebanyak itu, harusnya harga komoditas menjadi anjlok. Sebagai perbandingan, pada 2015 ketika ada impor 3,2 juta ton, petani sudah berteriak akan jatuhnya harga jagung pakan.

“Kalau surplus sampai di atas 10 juta ton saja, tidak terbayang bagaimana keluhan petani jagung,” ujarnya di acara yang sama, Jakarta, Kamis (8/11).

Besarnya surplus yang diklaim Kementerian Pertanian karena luasnya luas panen jagung yang mencapai 5,3 juta hektare pun menimbulkan pertanyaan tersendiri. Pasalnya dengan jumlah luasan tersebut, dibutuhkan sekitar 106 ribu ton benih untuk penanaman jagung. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari ketersediaan benih nasional.

“Kapasitas produksi benih nasional tidak pernah melebihi 60 ribu ton,” ungkapnya.

Ia pun kuat menduga, ada estimasi berlebih terkait produksi jagung nasional ini. Apalagi mengingat, klaim berlebih untuk produksi padi nasional kerap digaungkan Kementerian Pertanian. Khusus untuk padi sendiri, klaim tersebut menjadi tak valid karena adanya data terbaru dari BPS yang menunjukkan surplus beras yang disebutkan Kementerian Pertanian berlebih 40%-an dari hasil yang didapat BPS. Hal yang sama pun diyakini terjadi juga untuk komoditas jagung.

“Minimal samalah kayak beras. Lahan yang dipakai kan relatif sama,” imbuh pria ini mengakhiri.

Sumber

Related Images: