Pataka: Peryataan Kementan Sebut Jagung Surplus Tak Masuk Akal

by November 9, 2018
Media Online 0   81 views 0

Jakarta, PONTAS.ID – Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menyorot pernyataan Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyebut jagung diperkirakan surplus mencapai 12,9 juta ton pipilan kering (PK) pada periode 2018.

Angka surplus tersebut dianggap Pataka tidak masuk akal. Menurut Pataka, jika memang surplus jagung mencapai 12,9 juta ton maka diperlukan benih jagung minimal 106.000 ton. Hal itu dengan mempertimbangkan luas panen 5,3 juta hektare.

“Maka dengan asumsi 1 hektar memerlukan benih jagung rata rata sebesar 20 kg, di 2018 ini diperlukan benih jagung sebanyak 106.000 ton benih,” kata Direktur Eksekutif Pataka Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Menurut dia, kapasitas produksi benih nasional tidak pernah melebihi 60.000 ton. Artinya masih ada kekurangan benih sekitar 46.000 ton untuk mencetak surplus 12,9 juta ton.

Di samping itu, Lanjut Yeka,  untuk menyimpan surplus jagung sebanyak itu membutuhkan kompleks pergudangan yang luas sebagai tempat penyimpanan.

“Jika surplus 12,94 juta ton, maka setidaknya kita memerlukan kompleks pergudangan seperti gudang Bulog di Kelapa Gading itu sekitar 3.245 gudang,” sebutnya.

Belum lagi membutuhkan dukungan lahan sekitar 162.250 hektare atau 1622,5 km2, dan bangunan itu merupakan jajaran dari 6.490 silo alias tempat penyimpanan dengan kapasitas 2.000 ton per silo.

“Untuk menyimpan tambahan surplus jagung tersebut perlu investasi totalnya sebesar Rp 12,98 triliun. Jadi total investasi untuk menyimpan surplus jagung tersebut sebesar Rp 64,9 triliun,” lanjutnya.

Dia pun mengatakan, saat masih ada impor jagung sekitar 3,2 juta ton di 2015 saja banyak keluhan harga jagung anjlok. Jika benar ada surplus, minimal 10 juta ton saja, menurutnya harga jauh lebih anjlok.

“Bisa-bisa mereka tidak mau tanam jagung lagi di musim berikutnya karena harga jagung pasti anjlok tidak karuan,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, Kementan menyebut periode 2018, produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06% dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42% (data BPS).

Kemudian, ketersediaan produksi jagung pada November sebanyak 1,51 juta ton dengan luas panen 282.381 hektare. Bulan Desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare.

Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK, terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120.000 ton PK, dan industri pangan 4,76juta ton PK.

“Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro dalam konferensi pers di Gedung Kementan, Jakarta, Sabtu (3/11) lalu.

Sumber

Related Images: