Pataka Merespon Kabar Data Jagung Surplus

by September 24, 2021
Media Online Opini 0   13 views 0

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pertemuan antara perwakilan asosiasi peternak unggas dan pengusaha pakan ternak dengan presiden pada Rabu (15/9) lalu menghasilkan beberapa solusi, di antaranya ialah bantuan jagung kepada peternak.

Adapun, pada Senin lalu (20/9), bantuan jagung dengan harga Rp 4.500 per kg tersebut telah diterima oleh peternak di beberapa wilayah, seperti Blitar, Jawa Timur; Kendal, Jawa Tengah dan Lampung serta diberikan kepada asosiasi PPN (Pinsar Petelur Nasional).

Merespon hal ini, Ketua Pataka(Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi), Ali Usman mengatakandesas-desus jagung surplus sebesar 2,37 juta ton oleh Kementerian Pertanian (Kementan)tidak mendasar di tengahmelambungnya harga jagung yang terpanatau mencapai Rp 6.200 per kg. Menurutnya, perhari Selasa(21/09) realisasi bantuan harga jagung wajar tersebut tersalurkan hanya 1.000 ton dari 30.000 ton yang dijanjikan oleh Presiden.

“Kementan masih bersikukuh bahwa jagung surplus, tetapi harga jagung masih tinggi di berbagaidaerah terutama di Sumatera, Jawa, NTB(Nusa Tenggara Barat) danKalimantan. Kalau memang surplus,seharusnya harga jagung lebih murah bukan sebaliknya. Lalu mau sampai kapan desas-desus jagungsurplusini berlanjut?,” tegas Ali.

Menururt Ali, Presiden Joko Widodo baru mengetahui masalah jagung dari aksi nekat Suroto yang membentangkan poster di Blitar, sehingga perwakilan peternak diundang ke Istana Merdeka. Presiden mengira, harga jagung baik-baik saja karena berdasarkan data Kementan jagung surplus.Ia pun mengampaikan, mencuatnya fenomena Suroto ialahmomentum menyadarkan pemerintah, dalam hal ini Kementan, bahwa desas-desus surplusjagungharus segera diakhiri.

“Sudah saatnya DPRRI mengambil langkah strategis untuk RDP(Rapat dengan Pendapat) dengan Kementan, Kemendag (Kementerian Perdagangan), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (KemenkoPerekonomian)dan BPS (Badan Pusat Statistik), guna menghitung supply-demanddan neraca jagung nasional. Sehingga, persoalan segera diakhir dan mencapai kesepatakan bahwa data jagungke depanharus dikelola oleh BPS, tidak lagi diklaim sepihak oleh Kementan,” kata dia.

Ali menambahkan, ego sektroral lembaga harus dibuang jauh-jauh. Seyogyanya,Kementan mengkoordinasikanketika ada masalah, sehingga terjadi harmonisasi petani-peternak.

“Petani-peternak merupakan bagian dari penggerak ekonomi negara. Keduanya saling membutuhkan dan jangan saling menekan harga. Inilahmomentum harmonisasi stakeholderperunggasan layer(ayam petelur) baik petani, peternak, pelaku usaha dan distributor jagung maupunindustri pakan,” pungkasnya.

Sumber