Peternak Ayam Ras dan Petelur Menjerit, Harga Jual Lebih Rendah dari Harga Pokok, Minta Pemerintah Memperhatikan

by October 15, 2021

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Para peternak ayam ras dan petelur menjerit lantaran harga jual lebih murah dari biaya produksi. Terkait murahnya harga jual membuat Peternak ayam ras dan petelur meminta pemerintah memperhatikan nasib mereka.

Untuk itu, peternak ayam ras dan petelur melakukan aksi demo di Kantor Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Senin (11/10/2021), 

Demo itu terkait  harga dua komoditas bahan pokok tersebut yang fluktuatif dan kerap berada di bawah harga acuan setahun terakhir. 

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) Alvino Antonio W  aksi damai dilakukan oleh gabungan peternak mandiri bersama dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Pulau Jawa meminta pemerintah memperhatian nasib peternak.

“Aksi ini sebagai bentuk dukungan kami kepada Pemerintah dalam memperbaiki Tata Niaga Ayam Ras Pedaging dan Telur yang saat ini harga sarana pokok produksi tinggi tetapi harga jual ayam hidup dan telurnya murah sehingga sangat merugikan para Peternak Rakyat Mandiri,” kata Alvino Antonio Wsaat dihubungi,  Senin (11/10/20231).

Salah satu tuntutat peternak adalah agar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan diganti  karena tidak bisa melindungi peternak mandiri.

Para peternak juga kembali menyuarakan tuntutan agar penjualan produk unggas di pasar tradisional hanya diizinkan untuk hasil peternakan mandiri, bukan peternakan yang berafilisasi dengan perusahaan besar.

Tuntutan Para peternak ayam ras dan petelur yakni, perusahaan yang memiliki GPS (grand parent stock), PS (parent stock), pakan dan afiliasinya termasuk pinjam nama perorangan dilarang berbudidaya, menjual ayam hidup dan telur ke pasar tradisional.

Alvio mengatakan, peternak mengharapkan pula harga ayam hidup (livebird) dan juga telur dapat dinaikkan, setidaknya sesuai harga pokok produksi (HPP) Rp20.000 per kg. Harga anak ayam usia sehari (day old chick/DOC) dan pakan diharapkan dapat mengacu pada Permendag No. 7/2020. 

“Kami meminta jaminan supply DOC, jaminan harga jual ayam hidup dan telur diatas HPP sesuai Permendag No 7/2020 yakni minimal Rp20.000 per kg,” kata Alvino.

Terkait itu, Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menilai harga live bird anjlok yang sejak bulan September 2021 menyentuh Rp 16.000 – 17.000 per kilogram di tingkat peternak. Begitupun dengan harga telur yang saat ini mencapai Rp 14.000 – 17.000 per kilogram.

Ketua Pataka, Ali Usman mengatakan, anjloknya harga livebird dan telur karena dari daya beli masayarakat menurun akibat PPKM yang berlevel di berbagai daerah terutama se Jawa-Bali.

“Banyak Horeka (hotel, restoran, kantin) ditutup. Padahal serapan pasar Horeka cukup tinggi. Selain pasar utama ayam karkas segar dan telur ayam diserap konsumen rumah tangga melalui pasar tradisional dan toko ritail,” ujarnya.

Sumber

Related Images: