PRESS RELEASE: Webinar PATAKA 69

Revitalisasi Budidaya Udang untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, (22/02/2022). Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), TB. Haeru Rahayu mengatakan, pihaknya mendapatkan tugas dari Satgas Udang Nasional dimana target peningkatan produksi udang mencapai 2 juta ton di tahun 2024. Dengan pertambahan luas lahan mencapai 804.018 ha. Untuk tambak udang jumlah 300.501 ha, intensif 9.055 ha, semi intensif 43.643 ha dan tradisional 247.803 ha (82%).

Ia mengkalim produksi udang nasional mencapai 1 juta ton per tahun 2022 dan 2 juta ton ditahun 2024. Maka diperlukan revitalisasi tambak tradisional dimana membutuhkan 44.000 ha, intensif 3.000 ha dan 8.000 ha dan lahan baru oleh swasta 3.000 ha. Dengan target produksi 30 ton intensif, semi intensif 10 ton dan tradisional 0.6 ton per ha. Dengan sistsem modeling intensif Peningkatan produksi 80 ton pertahun/persiklus.

Sejauh ini, pihaknya telah melakukan pilot project modeling dan program revitalisasi dibeberapa titik di Indonesia. Untuk modeling 500 ha (on farm) Kabupaten Aceh Timur; 500 ha Kab. Sumba NTB; 100 ha Kab. Kebumen, Jawa Tengah; 500 ha Kab. Muna Sulawesi Tenggara. Kemudian program revitalisasi 250 (on farm) ha Kota Baru, Kalimantan Selatan dan 250 ha Kab. Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. “Jumlah target program revitalisasi masih jauh dari 1.000 ha, maka kami butuh dukungan dari stakeholder,” pintanya dalam Webinar PATAKA 69 “Revitalisasi Budidaya Udang untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat.”

Kejelasan Perijinan

Selain program modeling dan revitalisasi, persoalan yang paling krusial adalah perijinan dimana kewenangan tidak terpusat. Dari 34 provinsi, 514 kabupaten kota atau 338 berbasiskan pesisir ini memiliki kebijakan perijinan masing-masing. Saat ini proses perijinan ada 21 pintu ijin bagi pelaku usaha di daerah. “Dan ini di pemerintah pusat KKP tidak ada, semuanya ada di Dinas Provonsi, Dinas LHK, Dinas EDSM, Dinas Penanaman Modal, BPJS, Dinas Tenaga Kerja dan OSS. Kalau bisnis proses tidak terpusat, maka iklim investasi tidak cepat,” sesalnya.

Sedangkan Ketua Forum Udang Indonesia (FUI), Budhi Wibowo mengatakan, untuk mencapai target peningkatan nilai ekspor 250% dari total produksi 412.000 ton nilai ekspor sebesar 1.7 Milyar USD ditahun 2019. Maka ditahun 2024 target produksi ekspor 806.000 ton dengan nilai 4.25 Milyard USD. Jenis udang Vannemei 80% dan Black Tiger 20%.

Bhudi menyatakan, peningkatan produksi tambak udang dari intensif dan semi intensif harus dilakukan penyederhanaan perijinan tambak udang. “Kami meminta kepada Kantor Staf Presiden (KSP) untuk dibuatkan list, ijin apa saja yang diperlukan untuk tambak udang berdasarkan implementasi UU Cipta Kerja. Kalau list ada, dan disebarkan secara nasional dan daerah, maka proses ijin di daerah tidak akan bermasalah sehingga ada kejelasan,” ujarnya.

Program Revitalisasi

Menurut Budhi Pemeirntah harus fokus pada pengembangan infrastruktur budidaya, terutama irigasi, listrik, jalan produksi dan laboratorium. Kemudian SOP (Standar Operasional Prosedur) penanggulangan penyakit terutama AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase). Dimana pengembangan sistem peringatan dini penyakit pada perairan budidaya udang dengan pemanfaatan data remote sensing dan land base laboratorium.

Budhi mengatakan, revitalisasi tambak intensif/supra intensif harus memperhatikan daya dukung alam atau lingkungan dan mempunyai IPAL. Sedangkan ekstensifikasi atau pembangunan tambak udang baru sangat sensitif terhadap isu ekploitasi alam dan kerusakan lingkungan. Maka program harus dijalankan dengan kehati-hatian dan memperhatikan faktor lingkungan dan sosial.

Program revitalisasi tradisional plus penting karena jumlahnya sekitar 300 ha, kalau produksinya ditingkatkan maka produksi nasional meningkat sangat pesat yaitu dari 500 kg per ha menjadi 2 ton per ha per tahun. Revitalisasi tambak tradisional menjadi tradisional plus sejalan upaya penanaman mangrove berkaitan dengan carbone trade. Memperkuat branding udang Indonesia di dunia internasional karena Indonesia menjalankan cara berbudidaya udang berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Pengembangan tambak-tambak tradisional menjadi tradisional plus melibatkan rakyat dalam jumlah yang banyak dan mampu menggerakkan ekonomi pedesaan. Perubahan dari tradisional ke tradisional plus tidak memerlukan biaya yang besar. “Belajar dari equador yang mampu meningkatkan produksi nasional 3xlipat dalam waktu 7 tahun dengan mengutamakan tradisional plus yaitu induk unggul, padat tebar rendah manajeman air yang bagus dan bantuan aerator,” pungkasnya.

EWS Penyakit

Sementara itu, Ketua Harian Shrimp Club Indonesia (SCI) Hardi Pitoyo, menanggapi, target produksi udang nasional memerlukan lahan, benih dan induh. Tentu bermuara pada peningkatan SDM dan investasi yang tak sangat penting. Karena memilihara udang memerlukan ketrampilan teknis yang sangat detail. Karena itu, perlu akselarasi penambahan kebutuhan tenaga trampil lapangan denagan melakukan pelatihan, penyuluhan dan training.

Akselarasi investasis perlu dukungan regulasi bagaimana penyederhanaan dan percepatan perijinan misalnya cetak lahan terutama tambak intensif. Sehingga investor banyak yang masuk, apalagi waktu target produksi dari pemerintah yang sangat pendek sekitar 3 tahun kedepan. KKP jadi fasilitator atau mentor dalam pengurusan perijinan, intensif pajak dan akses permodalan bagi pembudidaya yang ada.

Selain perijinan merupakan persoalan utama, penyakit udang juga sangat problematik. Maka pemerintah perlu memperkuat keberadaan mini Lab. Guna mendekteksi dini atau Early Warning System (EWS) Penyakit dan lingkungan. Sebab dampak kegiatan produksi udang pasti akan mempengaruhi dinamika ekologi. “Kadang muncul gangguan produksi udang atau outbreak penyakit disuatu kawasan budidaya. Sejarah serangan penyakit selalu mengiringi upaya produksi. Maka perlu dukungan lab. Penyakit dan lingkungan sederhana di kawasan budidaya,” ujarnya.

Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) Ali Usman mengatakan, untuk mempercepat target produksi nasional udang pemerintah pusat segera membuat SOP program revitalisasi tambak tradisional hingga intensif. Melibatkan peran penyuluh untuk meningkatkan kapasitas SDM petambak bagaimana cara berbudidaya dengan baik, hingga penerapan dan pengawasan terkait benur atau bibit udang berkualitas tinggi, sehingga meningkatkan produksi dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

Perbaikan fasilitas seperti irigasi, perairan, benur berkualitas, penyesuaian pemberian pakan, pemberian obat-obatan, deteksi penyakit, kincir air hingga manajemen budidaya yang mengarah peningkatan kualitas SDM dan SOP berbudidaya udang sangat dibutuhkan peran Pemda dan penyuluh lapangan. Karena jumlah tambak tradisional sangat besar tapi produktivitas sangat minim, maka juga diperlukan sentuhan teknologi berbudidaya dari pemerintah dan swasta. Sehingga target produksi bisa tercapai dan ekspor Indonesia kembali geliat dikancah pasar dunia.***

Leave a Comment