Serapan Gabah dan Risiko Sistemik: Pelajaran Mahal dari Tahun 2025
BULOG kembali ditugaskan untuk melakukan penyerapan gabah petani tahun 2026. Jika tahun 2025 target penyerapan 3 juta ton setara beras, maka tahun ini naik menjadi 4 juta ton. Tujuannya mulia, yaitu melindungi petani agar tidak dipermainkan harga oleh tengkulak, menjaga minat petani untuk menanam padi sehingga bisa menahan alih fungsi lahan. Namun, pengalaman tahun 2025 memperlihatkan bahwa serap gabah dalam skala besar bukan kebijakan tanpa risiko. Kebijakan ini menggeser keseimbangan pasar jika tidak dirancang dengan cermat.
Skema yang diterapkan pemerintah pada 2025 adalah penyerapan 3 juta ton setara beras any quality atau tanpa rafaksi. Penyerapan yang masif membuat gabah cepat terserap oleh BULOG, dan cukup efektif menjaga harga gabah petani sesuai aturan pemerintah, yaitu Rp6.500 per kilo. Namun, intervensi ini membuat dinamika pasar berubah. Pasokan gabah di pasar lokal menipis, memicu rebutan bahan baku antar pelaku usaha, sehingga mendorong harga naik di tingkat hilir.
Berdasarkan keterangan Khudori di Inilah.com (Juli 2025), dari total gabah sekitar 18,76 juta ton, penggilingan hanya kebagian sekitar 600 ribu ton, sementara sisanya diserap BULOG. Temuan ini diperkuat oleh temuan Ombudsman pada periode yang sama, stok gabah di pasar hanya tersisa 5-10 persen. Dampaknya nyata yaitu penggilingan besar yang biasanya menggiling 30 ribu ton per hari, pada Juli 2025 hanya menggiling 2 ribu ton per hari. Defisit gabah nyaris tak terhindarkan.
Kondisi ini menjadi masuk akal jika dilihat dari struktur industri pengolahan padi nasional. Berdasarkan pernyataan Mentan Amran Sulaiman (Kontan, 18 Agustus 2025), produksi padi nasional hanya 65 juta ton per tahun. Sementara kapasitas giling nasional mencapai 165 juta ton per tahun. Artinya, bahkan tanpa intervensi besar sekalipun, sistem pengolahan padi sudah dalam kondisi persaingan bahan baku yang sangat ketat. Ketika BULOG masuk menyerap gabah secara masif dan serentak, tekanan terhadap pasar otomatis meningkat dan pasokan bagi penggilingan semakin sedikit.
“Kebijakan pangan yang kuat adalah kebijakan yang adil bagi petani, sehat bagi pasar, dan aman bagi konsumen.”
Dampak paling berat dirasakan oleh penggilingan kecil dan menengah. Survei SIDIKA PATAKA 2025 mencatat sekitar 25 persen penggilingan terancam gulung tikar, sementara yang lainnya terpaksa mengurangi produksi. Mereka kalah modal untuk bersaing mendapatkan bahan baku. Ini menunjukkan serapan yang besar tanpa desain wilayah dan waktu yang jelas, menciptakan defisit gabah lokal karena distribusi tersedot tidak seimbang.
Masalah tidak berhenti pada ketersedian bahan baku, skema serapan any quality juga membawa risiko. Banyak pengamat menilai pendekatan ini tidak mendorong tanggung jawab petani untuk menjaga kualitas gabahnya. Di lapangan, berbagai kualitas gabah dijual oleh petani. Mulai dari gabah yang masih hijau (belum siap panen), gabah basah, hingga praktik mencampur karung dengan bahan tidak layak agar berat timbangan meningkat. Menurut Dwi Andreas Santosa dosen IPB, gabah bermutu buruk dapat menyebabkan rendemen beras turun, bahkan di bawah 50 persen. Kondisi ini meningkatkan biaya penggilingan, menurunkan volume beras yang dihasilkan, dan beras yang dihasilkan berkualitas rendah.
Di sisi lain, realisasi penyaluran beras, terutama SPHP tidak sebanding dengan pengadaan beras. Akibatnya, stok akhir BULOG mencapai sekitar 3,2 juta ton dengan mayoritas berumur lebih dari 6 bulan. Seperti yang selalu diingatkan oleh Khudori, beras adalah komoditas yang tidak tahan lama. Makin lama disimpan, makin besar risiko turun mutu, susut volume, dan beban biaya penyimpanan yang besar. Stok besar memang penting untuk stabilisasi, tetapi berpotensi menjadi bom waktu jika tidak segera disalurkan.
Memasuki tahun 2026, BULOG menghadapi tantangan ganda, yaitu menyerap lebih banyak, sementara stok lama masih menggunung di gudang. Target serapan 4 juta ton, di tengah produksi yang diperkirakan melonjak pada awal tahun dan keterbatasan fasilitas dryer dan gudang, menjadikan tahun ini benar-benar tahun penuh risiko. Tanpa koreksi desain kebijakan, tekanan pasar pada 2025 berpotensi terulang.
Penyerapan gabah dalam jumlah besar bukan kesalahan. Namun, kebijakan ini memerlukan desain pasar yang matang untuk menghindari risiko sistemik. Pelajaran dari tahun 2025 menjadi fondasi kebijakan untuk tahun 2026 agar ekosistem perberasan tetap sehat dan berkelanjutan. Kualitas minimum perlu diatur, pendekatan any quality harus dibatasi, wilayah dan waktu serapan harus dibagi agar tidak terjadi kekosongan bahan baku. Penggilingan kecil dan menengah dilibatkan, dan distribusi stok dipercepat. Kebijakan pangan yang kuat adalah kebijakan yang adil bagi petani, sehat bagi pasar, dan aman bagi konsumen.

