Fluktuasi Harga Buat Peternak Ayam di Boyolali Terpuruk
Joglosemar.co – BOYOLALI—Fluktuasi harga ayam pedaging beberapa bulan terakhir, membuat peternak ayam jantan tradisional di Boyolali terpuruk.
Harga daging tak seimbang dengan biaya produksi ternak ayam membuat para peternak merugi. Kondisi yang sama juga dialami peternak ayam petelur atau layer.
Di Boyolali sendiri terdapat sekitar 400-an peternak ayam jantan pedaging, dengan jumlah populasi 1.000-100.000 ekor untuk setiap peternak.
Rata-rata, setiap peternak mempenuai 1.000-10.000 ekor ayam jantan pedaging. Salah satu peternak ayam jantan pedaging, Satu Budiyono, mengatakan budidaya ternak ayam jantan untuk pedaging di Boyolali sudah ada sejak tahun 1987.
“Namun fluktuasi era antara 1987 hingga 2010 masih terhitung wajar dalam perniagaan dan kami masih bisa menjual ternak,” ungkap dia, Selasa (21/3/2017).
Namun masalah muncul selepas 2010 dan semakin memburuk dialami peternak. Kondisi ini bahkan semakin memburuk dua tahun terakhir, ketika terjadi rentang harga jual yang sangat lebar, yakni antara Rp 15.000-35.000/kg. Menurut warga Desa Randusari, Kecamatan Teras itu, kondisi ini membuat peternak dalam posisi sulit.
Dengan harga Break Event Point (BEP) sekitar Rp 22.000/kg, tentu saja seringkali peternak merugi besar ketika harga anjlok hingga Rp 15.000/kg.
“Ada kalanya kami bisa menjual hingga Rp 35.000/kg saat adanya kelangkaan barang, tetapi seringnya harga anjlok. Itu pun seringkali dengan harga Rp 15.000 , tidak semua terserap pasar,” jelas Budiyono.
Situasi ini, kata dia, dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan pasar dan produksi. Kondisi peternak semakin terpuruk ketika pemodal besar (kartel) juga mulai membuka usaha di bidang yang sama. Kondisi ini membuat peternakan rakyat tidak mampu bersaing berebut pasar.
Perusahaan peternakan selain menguasai pembibitan (DOC), pakan, hingga obat-obatan, saat ini sudah masuk ke Boyolali menyaingi usaha peternakan ayam jantan rakyat.
Di sisi lain, peternak rakyat tidak mampu bersaing lantaran DOC, pakan, dan obat-obatan, masih harus membeli ke perusahaan.
Sriyadi, peternak warga Desa Singosari, Mojosongo, menambahkan, sentra peternakan ayam jantan rakyat tersebar di sejumlah kecamatan di Boyolali, di antaranya di Kecamatan Musuk, Mojosongo, Boyolali Kota, Ampel, Teras, Nogosari, dan Cepogo. Jika kondisi ini terus berlangsung, peternak rakyat bakal gulung tikar dan kehilangan sumber penghasilan.
“Selain jumlah produksinya berlebih yang menyebabkan harga anjlok, peternak rakyat jelas tidak mampu berkompetisi dengan perusahaan besar,” keluh dia.

